أهمية التشبه لفهم القرأن


أهمية التشبه لفهم القرأن
Sebelum kita mulai  menjelaskan faidah-faidah atau keutamaan memahami Ilmu Tasybih(amtsal), ada beberapa bait yang menarik dari kutipan Kitab Jawahirul Maknun, demikian bunyinya:
في كتاب جوهار المكنون:
فأبصروا معجزة القران# واضحة بساطع البرهان
Maka oleh karena itu, hati para ulama dapat melihat mujizat alquran dengan jelas, dengan dalil yang jelas pula.
فنز هوا القلوب في رياضه # وأوردوا الفكر على حياضه
Maka oleh karena itu pula, hati para ulama riang gembira merasa terpesona dan asyik sekali dalam menyelami isi al quran, laksana melihat taman yang indah permai dan mereka mencurahkan pikiran dan perhatiannya dalam mendalami isi al-Quran yang dimisalkan dengan danau yang luas.
من علم اسرار اللسان العربي # ودرك ما خصبه من عجب.
لأنه كالروح للإعراب و هو لعلم النحو كاللباب.
Yaitu yang termasuk rahasia bahasa arab dan (dengan ketiga macam ilmu itu) dapat ditemukan pengertian yang aneh-aneh yang dikhususkan dalam bahasa arab.
Sebab ilmu-ilmu itu merupakan ruh bagi lafadz yang diirobi dan bagi ilmu nahwu merupakan intinya.
(Maksudnya oleh karena itu ilmu nahwu mengatur irob kalimat, sedang ilmu balagah menyoroti pengertian yang terkandung dalam kalimat itu.)

Dari nadhom tersebut, sedikitnya kita dapat mengerti alasan kenapa tasybih itu penting difahami.

--Dalam Alqur’an, Allah menampilkan sejumlah contoh dalam rangka menggugah akal manusia, diantaranya dalam surat Al-Hasyr ayat 21:
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَاْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴿الحشر:۲۱
Artinya: “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”

--Dasar pengembangan ilmu At-tassbih Al-qur’an adalah hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Baihaqi: “Sesungguhnya Alqur’an diturunkan atas lima cara, 1. Halal, 2. Haram, 3. Muhkam, 4. Mutasyabih, 5. Amtsal. Oleh karena itu pelajari yang halal dan hindari yang haram, ikuti yang muhkam dan berimanlah dengan mutasyabih, dan ambil pelajaran dari amtsal” (HR. Baihaqi).

Ada beberapa faedah-faedah mempelajarinya dalam Alqur’an, antara lain:
dari segi Isi:
1.   Menonjolkan/ menampilkan sesuatu yang ma’qul (yang hanya bsa dijangkau akal, abstrak) dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan indera manusia, sehingga akal mudah menerimanya, sebab pengertian-pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk inderawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya, dalam surat Al-Baqarah ayat 264 Allah membuat perumpamaan bagi keadaan orang yang menafkahkan harta dengan riya’, dimana ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari perbuatanya itu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ﴿البقرة:۲٦٤﴾
Artinya: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
2. Dapat mengungkapkan kenyataan dan mengkonkritkan hal-hal yang abstrak.
3. Mengumpulkan/ menghimpun makna yang menarik lagi indah dalam satu ungkapan yang singkat dan padat, 
4. Mendorong orang yang diberi perumpamaan untuk berbuat sesuai isi perumpamaan, jika ia merupakan sesuatu yang disenangi jiwa. Misalnya, Allah membuat pemisalan bagi keadaan orang yang menafkahkan harta di jalan Allah, dimana hal itu akan memberikan kepadanya kebaikan yang banyak. Perumpamaan ini tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 261:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴿البقرة:۲٦١﴾
Artinya: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
5. Menjauhkan dan menghindarkan dari perbuatan tercela, jika isi perumpamaan berupa sesuatu yang dibenci jiwa. Misalnya firman Allah tentang larangan bergunjing dalam surat Al-Hujurat ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴿١۲
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”
6. Untuk memuji orang yang diberi umpamakan. Seperti firman Allah tentang para sahabat dalam surat Al-Fath ayat 29:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴿۲٩﴾
Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Demikianlah keadaan para sahabat, pada mulanya mereka hanya golongan minoritas, kemudian tumbuh berkembang hingga keadaannya semakin kuat dan mengagumkan hati karena kebesaran mereka.
7. untuk menggambarkan sesuatu  yang mempunyai sifat yang dipandang buruk oleh orang banyak. Misalnya perumpaman tentang orang yang dikaruniai Kitabullah tetapi ia tersesat jalan hingga ia tidak mengamalkannya, diterangkan dalam surat Al-A’raaf ayat 175-176:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ﴿١۷۵﴾وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ﴿١۷٦﴾
Artinya: “(175) Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (176) Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”

8. Untuk memberikan rasa berkesan dan membekas dalam jiwa, karena perumpamaan atau tasybih lebih efektif dalam memberikan nasehat, lebih kuat dalam memberikan peringatan, dan lebih dapat memuaskan hati. Diantaranya, Allah banyak menyebut amtsal di dalam Alqur’an untuk peringatan dan  pelajaran. Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 27:
وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ﴿۲۷
Artinya: “Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur'an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran.”
            Juga firman Allah dalam surat Al-‘Ankabuut ayat 43:
وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلاﱠ الْعَالِمُونَ﴿٤۳
Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”



Dari segi Bahasa:
Menurut Quraish Shihab, di antara faidah tasybih ialah :

1.    Menjelaskan sifat dan keadaan al-Musyabbah, seperti QS. Al-‘Ankabut : 41,
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya : “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui “
2.    Menjelaskan dan memantapkan keadaan al-Musyabbah, seperti QS. Al-Baqarah : 74,
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Artinya : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras. Padahal dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang (airnya) memancar dari padanya. Ada pula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya. Dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidaklah lengah terhadap apa yang kamu kerjakan “

3.    Memperindah al-Musyabbah, seperti QS. Al-Waqi’ah : 22-23, yang melukiskan keindahan dan kesucian (حور عين) yaitu makhluk-makhluk surgawi atau bidadari :
وَحُورٌ عِينٌ (22) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ
Artinya : “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah. Laksana mutiara yang tersimpan baik “

4.    Menonjolkan keburukan al-Musyabbah, seperti gambaran sikap orang-orang kafir dalam QS. Al-Baqarah : 171 :
وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
Artinya : “Dan perumpamaan bagi (penyeru) orang yang kafir adalah seperti (penggembala) yang meneriaki (binatang) yang tidak mendengar selain panggilan dan teriakan. (Mereka) tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti“
Ayat ini menyerupakan orang-orang kafir yang menyeru atau bermohon kepada berhala-berhala yang mereka sembah seperti halnya penggembala yang menyeru binatang-binatang gembalaannya. Menurut Quraish Shihab,binatang-binatang itu sekedar mendengar panggilan dan melihat penggembalanya, tetapi mereka pada hakikatnya tuli, tidak mendengar sehingga tidak dapat memperkenankan permintaan mereka. Berhala-berhala itu juga bisu, tidak dapat menyampaikan sesuatu kepada mereka.
Dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan penafsiran ayat tersebut, bahwa perumpamaan orang yang menyeru orang-orang kafir kepada kebenaran adalah seperti penggembala yang berteriak. Rasul atau para juru dakwah diibaratkan dengan penggembala, sedangkan orang-orang kafir diumpamakan bagaikan binatang. Keduanya mendengar suara panggilan dan teriakan, tetapi tidak memahami atau tidak dapat memanfaatkan suara panggilan itu.

Bahkan, penulis Tafsir al-Mishbah ini menguraikan bahwa ayat ini dapat juga berarti orang-orang itu, dalam ibadah dan doa mereka kepada tuhan-tuhan mereka, seperti penggembala yang berteriak kepada binatangnya yang tidak mendengar. Di sini, orang-orang kafir itu diibaratkan dengan penggembala dan tuhan-tuhan mereka yang mereka sembah diibaratkan serupa dengan binatang-binatang


Berikut ini ada beberapa contoh tasybih dalam Al-Qur’an.
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
Artinya: Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al-Baqarah: 187)
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ
Artinya: Isteri-isterimu adalah tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tempat bercocok-tanammu itu sebagaimana kamu kehendaki. (QS. Al-Baqarah: 223)
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
Artinya: Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. (QS. Ibrahim: 24)
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
Artinya: Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. (QS. Ibrahim: 26)
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَآَتُ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ
Artinya: Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. (QS. Ar-Rahman: 24)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaf: 4)
سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Artinya: Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (QS. Al-Ahqaf: 7)
وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
Artinya: Dan (kami jadikan) gunung-gunung sebagai pasak. (QS. An-Naba’: 7)
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا
Artinya: Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. (QS. An-Naba’: 10)
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ. وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ
Artinya: Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. (QS. Al-Qari’ah: 4-5).
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ
Artinya: Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. Al-Fil: 5)
فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ
Artinya: Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita (QS. Al-Qalam: 20)
كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ
Artinya: Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut (QS. Al-Mudatstsir).




marooji:

M. Quraish Shihab, hal. 148-149
 Departemen Agama RI, op. cit., hal. 565

Komentar

Postingan populer dari blog ini

التشبه عند العلماء العربية

أسهل التشبه لتفسير القرأن